Sayyidah Aisyah Ra, yang termasuk salah satu Ummul Mu’minin ternyata pernah mempunyai rasa cemburu juga, dikisahkan dalam sebuah atsar, bahwa pada suatu hari Beliau sudah tidak dapat menahan rasa cemburunya lagi atas salah satu sikap Rosululloh SAW. selama ini, maka beliau memberanikan diri untuk bertanya, “Wahai Rosululloh SAW, dihadapanmu kini telah ada aku istrimu yang masih muda dan cantik jelita, tapi mengapa setiap kali kita akan makan bersama, selalu saja aku harus menyediakan 3 piring, 2 piring untuk kita berdua, dan sepiring lagi disedekahkan yang pahalanya untuk almarhumah Sayyidah Khadijah RA, kenapa wanita tua yang telah tiada itu selalu Engkau kenang dihadapanku, tiada cukupkah diriku bagi Engkau ya Rosul SAW?”
Maka dengan bijak Rosul SAW menjawab, “Ya Khumaeroo (panggilan sayang Rosululloh SAW. khusus untuk Aisyah RA) adakah aku bisa melupakan, sesosok wanita keibuan, yang menyelimutiku dikala aku kedinginan, mengimaniku dikala semua orang mengingkari, melindungiku saat semua kaum kafir memerangi, mendampingiku disaat semua orang menjauhi dan bahkan mengorbankan segala apa yang dimilikinya untukku, demi berjuang di jalan Alloh?” -au kama qol.
Begitullah Rosulullah SAW, beliau telah mengajarkan kepada kita apa arti kekuatan cinta yang sesungguhnya, jauh sebelum Celine Dion melantunkan bait demi bait The Power Of Love yang terkenal itu dengan lengkingannya yang khas, juga derai suara merdu mendayu Richard Marx meresapi syair Now and Forever.
Tanpa banyak penjelasan, kiranya sekelumit cerita diatas sudah cukup menjadi pelajaran buat kita akan hakekat cinta yang sebenarnya, bahwa mencintai itu bermakna menyelimuti dikala kedinginan, mempercayai disaat semua orang mengingkari, melindungi disaat semua orang memusuhi, dan mengorbankan semua yang dimiliki demi sang kekasih yang sangat dicintai, yang bila kita cermati, tidak ada kata meminta, menuntut atau apapun jenisnya kita temukan disana.
Sementara itu sekitar seribu tiga ratus tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 12 Oktober 1915 pagi hari, Edith Cavell, juru rawat Inggris yang namanya kini telah diabadikan pada sebuah gunung api yang paling indah di Canada, tengah menghadapi regu tembak tentara Jerman karena dianggap bersalah. Ia dengan sengaja menyembunyikan, memberi makan, dan merawat tentara Inggris dan Perancis yang terluka dirumahnya di Brussel, Belgia dan kemudian menyeludupkannya ke Belanda.
Ketika pendeta mendatangi selnya untuk memberikan sakramen terakhir dan mempersiapkan kematianya, ia hanya berkata: “Saya sadar bahwa patriotisme saja tidaklah cukup. Saya tidak boleh membenci siapapun. Saya tidak boleh mendendam siapapun”
Begitulah, dalam hidup ini patriotisme, atau rasa cinta saja tidaklah cukup, disampingnya masih harus ada banyak penjabaran, pemikiran, pertimbangan atau apapun kita menyebutnya, yang sudah seharusnya dilandasi dengan taqwa sebagai manifestasi dari pada keimanan dan akal jernih dalam kedewasaan.
Senada dengan hal ini, pada sekitar tahun sembilan puluhan seorang penyanyi cantik Amerika bernama Petty Smith bersama Don Henley, melantunkan sebuah lagu syahdu yang kalau saya tidak salah ingat berjudul Sometimes love just ain’t enough . Dalam lagu itu, dengan suaranya yang merdu mendayu ia menyatakan kepada siapa saja -wa bil khusus kekasihnya- bahwa cinta memang sangat dibutuhkan untuk tumbuh didada, namun disisi lain pada saat yang sama (dengan tanpa bermaksud untuk bersikap materialistis) ia mengemukakan dengan jujur bahwa terkadang cinta saja tidak cukup karena hidup juga butuh makan.
Pada akhirnya, saling mencinta saja, bukanlah suatu jaminan untuk merasakan saling berbahagia, untuk kebahagiaan selalu ada perbuatan pilihan yang terkadang amat pribadi. Untuk cinta, sebagaimana halnya kepercayaan, tidak ada pilihan lain kecuali percaya atau tidak percaya, cinta atau tidak cinta.
Sampai disini aku jadi teringat Louisa May Alcott sang penulis besar itu pernah berkata dalam salah satu bukunya, “Sometimes a man (woman) love with a women (man), but happy with another”.
Maka dengan bijak Rosul SAW menjawab, “Ya Khumaeroo (panggilan sayang Rosululloh SAW. khusus untuk Aisyah RA) adakah aku bisa melupakan, sesosok wanita keibuan, yang menyelimutiku dikala aku kedinginan, mengimaniku dikala semua orang mengingkari, melindungiku saat semua kaum kafir memerangi, mendampingiku disaat semua orang menjauhi dan bahkan mengorbankan segala apa yang dimilikinya untukku, demi berjuang di jalan Alloh?” -au kama qol.
Begitullah Rosulullah SAW, beliau telah mengajarkan kepada kita apa arti kekuatan cinta yang sesungguhnya, jauh sebelum Celine Dion melantunkan bait demi bait The Power Of Love yang terkenal itu dengan lengkingannya yang khas, juga derai suara merdu mendayu Richard Marx meresapi syair Now and Forever.
Tanpa banyak penjelasan, kiranya sekelumit cerita diatas sudah cukup menjadi pelajaran buat kita akan hakekat cinta yang sebenarnya, bahwa mencintai itu bermakna menyelimuti dikala kedinginan, mempercayai disaat semua orang mengingkari, melindungi disaat semua orang memusuhi, dan mengorbankan semua yang dimiliki demi sang kekasih yang sangat dicintai, yang bila kita cermati, tidak ada kata meminta, menuntut atau apapun jenisnya kita temukan disana.
Sementara itu sekitar seribu tiga ratus tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 12 Oktober 1915 pagi hari, Edith Cavell, juru rawat Inggris yang namanya kini telah diabadikan pada sebuah gunung api yang paling indah di Canada, tengah menghadapi regu tembak tentara Jerman karena dianggap bersalah. Ia dengan sengaja menyembunyikan, memberi makan, dan merawat tentara Inggris dan Perancis yang terluka dirumahnya di Brussel, Belgia dan kemudian menyeludupkannya ke Belanda.
Ketika pendeta mendatangi selnya untuk memberikan sakramen terakhir dan mempersiapkan kematianya, ia hanya berkata: “Saya sadar bahwa patriotisme saja tidaklah cukup. Saya tidak boleh membenci siapapun. Saya tidak boleh mendendam siapapun”
Begitulah, dalam hidup ini patriotisme, atau rasa cinta saja tidaklah cukup, disampingnya masih harus ada banyak penjabaran, pemikiran, pertimbangan atau apapun kita menyebutnya, yang sudah seharusnya dilandasi dengan taqwa sebagai manifestasi dari pada keimanan dan akal jernih dalam kedewasaan.
Senada dengan hal ini, pada sekitar tahun sembilan puluhan seorang penyanyi cantik Amerika bernama Petty Smith bersama Don Henley, melantunkan sebuah lagu syahdu yang kalau saya tidak salah ingat berjudul Sometimes love just ain’t enough . Dalam lagu itu, dengan suaranya yang merdu mendayu ia menyatakan kepada siapa saja -wa bil khusus kekasihnya- bahwa cinta memang sangat dibutuhkan untuk tumbuh didada, namun disisi lain pada saat yang sama (dengan tanpa bermaksud untuk bersikap materialistis) ia mengemukakan dengan jujur bahwa terkadang cinta saja tidak cukup karena hidup juga butuh makan.
Pada akhirnya, saling mencinta saja, bukanlah suatu jaminan untuk merasakan saling berbahagia, untuk kebahagiaan selalu ada perbuatan pilihan yang terkadang amat pribadi. Untuk cinta, sebagaimana halnya kepercayaan, tidak ada pilihan lain kecuali percaya atau tidak percaya, cinta atau tidak cinta.
Sampai disini aku jadi teringat Louisa May Alcott sang penulis besar itu pernah berkata dalam salah satu bukunya, “Sometimes a man (woman) love with a women (man), but happy with another”.
0 komentar:
Posting Komentar